Our Chat Room

Thursday, October 25, 2012


Kelompok di Surabaya tawarkan pendidikan gratis bagi anak-anak jalanan

Para sukarelawan muda membagi waktu dan bakat mereka untuk membantu kaum yang kurang beruntung di kota terbesar kedua di Indonesia itu.

Oleh Michael Watopa untuk Khabar Southeast Asia di Surabaya

Oktober 24, 2012
Kembali ke Format AwalLebih kecilLebih besar
Seperti kota-kota besar lainnya, Surabaya memiliki banyak masalah, termasuk meningkatnya jumlah anak jalanan yang tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak karena keluarga mereka terlalu miskin.
  • Seorang
    Seorang "pengajar keren" dari Selamatkan Anak Jalanan Surabaya memberi pelajaran pada malam hari kepada seorang anak miskin di Surabaya. [Foto oleh Michael Watopa/Khabar]
  • Seorang bocah mengerjakan PR sementara bocah lainnya tertidur. Para relawan mengajar anak-anak pada malam hari, karena anak-anak ini bekerja pada siang hari.
    Seorang bocah mengerjakan PR sementara bocah lainnya tertidur. Para relawan mengajar anak-anak pada malam hari, karena anak-anak ini bekerja pada siang hari.
Namun sebuah kelompok bernama Selamatkan Anak Jalanan Surabaya, yang dibentuk pada bulan Juni 2011, mencoba mengatasi masalah itu - yang merupakan salah satu masalah terbesar di Surabaya - dengan merekrut mahasiswa dan pelajar SMA, dan para sukarelawan lain untuk mengajari anak-anak tersebut secara gratis.
Mereka bukan hanya sukarelawan: mereka adalah "pengajar keren".
"'Pengajar Keren' adalah program perekrutan untuk guru melalui situs web kami yang dimulai dari bulan Agustus 2011. Mereka menjadi relawan untuk membantu anak-anak jalanan mendapat pendidikan gratis," kata Hamdal Bahlawan, 25 tahun, koordinator umum Selamatkan Anak Jalanan Surabaya, kepada Khabar Southeast Asia.
"Kata 'keren' itu sendiri adalah untuk menghargai mereka yang bersedia membagi pengetahuan mereka," katanya.
Sampai saat ini, sekitar 20 sampai 30 orang telah merelakan waktu mereka untuk mengajar anak jalanan di taman-taman rakyat seperti Taman Bungkul atau Taman Suropati dan sebuah masjid dekat mal Plaza Jembatan Merah.
Pelajaran diadakan pada malam hari karena pada siang hari anak-anak tersebut biasanya bekerja: menjual koran, menyemir sepatu, mengemis atau mengamen.
"Anak-anak ini terpaksa bekerja dahulu sebelum mereka diperbolehkan belajar bersama kami. Inilah sebabnya kami mengajar mereka pada malam hari. Masalah kami berikutnya adalah mereka tidak memiliki motivasi atau impian. Oleh karena itu, kami bekerja untuk membangun impian mereka," kata Hamdal kepada Khabar.
"Mereka harus belajar lebih banyak, dan bermain"
Kehidupan berat yang dihadapi anak-anak jalanan ini mendorong Rizky Arif Hanafi, 20 tahun, seorang mahasiswa di Politeknik Negeri Galangan Kapal, menjadi "pengajar keren".
"Mereka harus bekerja untuk orang tua mereka sampai pukul 3 pagi sementara mereka seharusnya belajar lebih banyak dan bermain. Kemiskinan memaksa mereka bekerja keras tanpa pendidikan apapun. Kenyataan ini mendorong saya menjadi relawan pengajar keren," katanya.
Advin Mariyono, 21 tahun, seorang mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dan direktur humas Selamatkan Anak Jalanan Surabaya, berkata dia ingin membagi pengetahuannya dengan anak jalanan.
"Bagi saya, pendidikan itu penting. Mereka berhak mendapat pendidikan," ujarnya.
Rakyat harus lebih mempedulikan anak jalanan, kata Carla Della Cicinati, 20 tahun, seorang mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
"Seandainya anak jalanan bisa mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Kita harus membantu mereka sekarang. Mereka juga berhak bermain dan mendapat pendidikan yang layak," katanya.
"Saya paling suka matematika"
Rizky Bagus Maulana, 7 tahun, mendapatkan uang koin dengan mengamen di jalanan atau bus umum. Rizky berkata kepada Khabar bahwa dia senang mendapat kesempatan belajar.
"Guru-guru sangat baik kepada saya. Saya senang menjadi murid mereka. Terlebih lagi, saya bisa belajar matematika dan membaca. Saya dapat membaca dan menghitung dengan baik sekarang," katanya.
Ibu Rizky, Umi Hesty, berkata pendidikan gratis penting.
"Jika anak saya belajar di sekolah, saya harus membayar biayanya. Keluarga saya tidak mampu untuk itu. Oleh karena itu, saya mendukung anak saya untuk belajar dengan para guru dalam program 'pengajar keren'," katanya. Muhammad Ilham Fauzi, 10 tahun, penjaja makanan yang ingin masuk TNI, berkata program ini membantunya dengan pekerjaannya.
"Saya paling suka matematika. Hal ini membantu saya menjual lumpia. Orang tua saya tidak melarang saya belajar asalkan saya belajar setelah bekerja," katanya.
Andik Firmansyah, 10 tahun, penjual koran, berkata "Saya belajar cara makanan memasuki sistem pencernaan kita dan cara kerja usus dalam tubuh kita. Sangat menyenangkan belajar di sini karena gratis. Kami harus membayar pendidikan di sekolah. Orang tua saya tidak mampu membayar."
Arist Merdeka Sirait, ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, mengutarakan dukungannya bagi upaya ini.
"Saya menghargai apa yang mereka lakukan untuk membantu pendidikan anak jalanan. Ini seharusnya menjadi kewajiban kita untuk membantu anak jalanan," katanya kepada Khabar melalui telepon dariJakarta.
"Semua orang dan pemerintah harus lebih serius mengatasi masalah pendidikan anak jalanan. Merekalah generasi berikut negara ini. Jangan abaikan pendidikan mereka."


Tuesday, October 2, 2012

Perjalanan ke Trengganu

Perjalanan ke Pantai Timur melalui jalan FELDA Sungai Arin amat meletihkan dan merbahaya. Jalannya berlobang-lobang.Kami menggunakan jalan ini kerana ini adalah jalan pintas.

Aku memandu pada malam yang sungguh sepi. Tidak ada sebuah kenderaanpun yang kami bersua.

Jam 7.00 pagi barulah ada kereta dan bas yang menggunakan jalan ini.Kami berhenti di sebuah rumah lama(lihat gambar) ubtuk menunaikan solat subuh. Pada pagi itu kabus agak tebal.

Aku menceritakan hal ini kepada Harun.Beliau sungguh terkejut kerana aku menggunakan laluan yang merbahaya itu.


Oleh Shakir Taha.