Our Chat Room

Sunday, June 17, 2012

Bambang Sukirno

Redaksi | Minggu, 17 Juni 2012 - 21:06:05 WIB | dibaca: 261 pembaca
As-Suri dan  Suriah

Abu Mus'ab As Suri

Eramuslim.com | Media Islam Rujukan,

Abu Mus’ab As-Suri dikenal melalui karya monumentalnya; “Da’wah Muqowamah”. Buku setebal 1.600 halaman itu dinilai sangat brilian baik oleh kelompok aktifis Islam maupun oleh tokoh Amerika. Ia disebut-sebut sebagai tokoh yang sangat visioner. Karenanya, orang yang pernah mendampingi Usamah bin Laden di Afghanistan ini disebut sebagai arsitek Alqaidah yang sangat berbahaya. Ia menulis Serial Da’wah Muqowamah karena khawatir akan segera ditangkap sementara banyak pengalaman penting yang perlu dibagi. Bashirah itu ternyata terbukti. Ia ditangkap di Pakistan setelah menyelesaikan mega karya itu.

Ternyata, As-Suri yang juga popular di kalangan aktifis Indonesia itu, jauh hari pernah menulis soal rezim Assad. Ia menyebutnya sebagai bayan terhadap seluruh umat Islam khususnya di wilayah Syam. Title-nya, ‘Ahlusnunnah fies Syam fie muwajahah Nushairiyah was-Shalibiyah, wal-Yahud (Ahlussunah Syam dalam menghadapi Nushairiyah, Nasrani dan Yahudi)’. Tulisan itu berjumlah 63 halaman dan dipublish oleh Markaz Ghuroba lid-Dirosat Al-Islamiyah.

Bayan yang ditulis di bumi hijrah Kabul tahun 2000 itu seperti sedang merespon suksesi yang tengah berlangsung saat itu di Suriah. Seperti maklum, Hafez Assad mati karena sakit paru-paru di tahun 2000. Uniknya, kendati konstitusi Suriah menyebut syarat minimal seorang Presiden harus berumur 40 tahun, Basyar Asad yang berusia 34 tahun, dilantik menggantikan Bapaknya. Tentu saja konstitusi itu telah diubah sebelum pelantikan dilakukan. As-Suri menyebut terpilihnya Basyar yang masih ingusan, tak punya pengalaman militer dan politik, besar dan terdidik di Inggris, lebih sebagai hasil perselingkuhan Yahudi, Nasrani, dan Nushariyah.

Assuri mengingatkan Ahlussunnah di Suriah dengan pertanyaan, ‘Apakah kita Ahlussunah yang eksis di Suriah ataukah kelompok Nushairiyah, Nashrani, dan Yahudi?’ Beliau menyentil fakta yang menyedihkan dan patut ditangisi (muhzin mubky), bahwa Sunni berjumlah 18 juta di Suriah. Angka itu setara dengan 83 % dari total jumlah penduduk. Sementara sisanya 8 % dari sekte ekstrim Syiah Nushariyah dan 4 % Nasrani dan 5 % kelompok lain seperti Syiah. Betapa tidak menangis, kelompok yang 8 % ternyata memimpin kelompok sunni yang mayoritas selama ini.

Assuri menyebut Fir’aun telah mati dan Fir’aun muda telah lahir. Fira’un tentu simbol kediktatoran, kebengisan, bahkan keangkuhan dalam kultus ketuhanan. As-Suri seperti mengingatkan bagaimana kebengisan Hafez Assad terhadap Sunni di tahun 1982. Penguasa yang mendapatkan kekuasaan dari jalan kudeta 1963 itu tercatat pernah membunuh 60 ribu lebih dalam peristiwa yang disebut ‘Pembantaian Hama’. Setiap hari selama dua bulan, Hafez meminta didatangkan 1000 muslim sunni semisal Ikhwanul Muslimin untuk dibunuh. Sejarah hitam Suriah ini, berjaya menanamkan rasa traumatik bangsa Suriah hingga mereka berdiaspora ke seluruh penjuru dunia. Hingga kini banyak dari mereka enggan kembali. As-Suri hanyalah salah seorang korban yang berhijrah.

Semula, banyak penduduk Suriah mengira bahwa tampilnya Basyar Assad dapat memunculkan suasana baru yang lebih bebas. Di awal kepemimpinannya, orang Suriah menyebut sebagai ‘Demaskus Summer’. Muncul euphoria sejenak dengan maraknya diskusi-diskusi politik yang kritis. Namun hal itu hanya sementara karena Basyar mempertahankan Suriah hanya dengan satu partai. Tidak ada pemilihan umum yang bebas di Suriah. Suriah tetap menerapkan darurat militer. Hak berekspresi, berkumpul, berserikat dikontrol sangat ketat di Suriah. Para aktifis HAM dan kritikus akan berakhir di jeruji besi setelah sebelumnya disiksa. Situs-situs jejaring sosial seperti Amazon, Facebook, Wikipedia, Youtube diblokir sampai 1 Januari 2011. Hukum 2007 mengharuskan kafe internet mencatat semua komen pengguna posting di forum dan chat online.

Puncaknya, seperti difirasatkan As-Suri; Basyar ternyata melestarikan budaya Fir’aun abahnya. Assuri menulis di tahun 2000 dan kini banyak rakyat Suriah menceritakan bagaimana kebengisan Basyar Assad. Salah seorang staf di Kementerian Penerangan Suriah akhirnya membelot. Pasalnya, Nuraninya tidak bisa menerima saat disuruh menyaksikan rakyat Suriah yang dipaksa masuk ke pabrik gula. Disana para wanita ditawan dan diperkosa. Mereka berteriak dan menjerit. Sementara kaum laki-lakinya dilempar ke mesin penggilingan hidup-hidup. Keluarlah daging cincang muslim Suriah. Sebagian tentara yang tak berkenan menembak rakyat dihukum dengan tembakan. Inilah antara lain yang memicu pembelotan lebih dari 7 % Tentara Suriah. Ini hanyalah contoh kecil.

Assuri juga memaparkan apa itu Nushairiyah, bagaimana aqidahnya, termasuk rekam jejaknya dalam sejarah. Ia berkata, ‘Kita mengenal Nasrani dan Yahudi. Tetapi, kita tidak mengenal Alawiyah Nusairiyah?’ Assuri menilai banyak orang tak memahami sejarah ini sehingga ulama sekaliber Al-Buthi masih meyakini Hafez Assad sebagi Presiden Muslim. Padahal Nushairiyah telah dikenal dalam sejarah sebagai sekte yang sangat nyeleneh. Mereka mengkombinasikan ajaran yang gado-gado dari Syiah, Kristen, Budha dan Majusi. Mereka yang berbasis di pegunungan dan lautan inilah penyokong setia rezim Assad.

Sang Pendiri, Muhammad Numair An-Nushairi mengaku sebagai perwakilan Imam ke-12 yang ghoib dan masuk ke dalam Sirdab bernama Ahmad Hasan Al-Asykari. Ia mengklaim bisa berkomunikasi dan bisa menjawab pertanyaan kalangan Syiah Itsna Asyriyah terhadap Imam Mahdinya yang belum muncul. Nushairiyah ini juga meyakini Trinitas dengan meyakini Ali sebagai Tuhan, Muhammad dan Salman Al-Farisi. Tiga figur ini diformulasikan dalam simbol huruf ‘Ain, Mim, dan Sin’. Mereka tak mempercayai pembalasan hari akhir sebagaimana muslim melainkan tanasukh arwah (reinkarnasi). Dalam keyakinan sekte ini, ruh manusia akan mengalami reinkarnasi sesuai kadar amalnya. Jika amalnya baik maka ruhnya akan berpindah ke manusia. Jika amalnya buruk maka ruhnya akan berpindah ke hewan.

Mereka berselisih pendapat tentang kemana ruh Ali? Ada yang berpendapat ke matahari, ke bulan dan ke awan. Itulah sebabnya hingga kini sebagian mereka sujud ke matahari, bulan dan awan; mirip Majusi, agama asli bangsa Persi (Iran). Kultus mereka sedemikian rupa kepada Ali membuat Prancis memberikan julukan kehormatan sebagai ‘Alawiyin’. Karena sekte inilah yang membantu Prancis dalam menjajah Syam dulu. Dan kepada sekte ini juga Prancis menyerahkan estafet kepemimpinan saat mereka harus hengkang. Mereka yang basis wilayahnya di pegunungan dan lautan ini, juga mendapatkan kecaman dari kalangan Rafidhah. Dalam buku-buku Ulama Rafidhah, Nushariyah dinilai ghuluw (berlebihan) dan telah kafir.

Seperti disampaikan As-Suri, ‘tidak banyak dari kita yang mengenal sekte ini’. Kendati kitab-kitab Ulama semisal Ibnu Taimiyah dan lain-lain telah mengupas tuntas faham sesat ini. Inilah agaknya yang membuat persepsi soal siapa Basyar agar rumit di kalangan umat Islam sekarang ini. Ada yang memandang sikap Basyar benar dan perlu dibela. Sebab, Basyar adalah musuh Israel. Di Suriah, Biro Politik Hammas beroperasi. Konon, di sana juga banyak operasi Mossad yang diblock. Sebaliknya Pemerintah Suriah justru menfasilitasi sejenis kepentingan militer Rusia yang notabene saingan Amerika. Selama ini Demaskus juga dijuluki sebagai muhafadhoh (Provinsi) Iran karena dekatnya hubungan antar dua Negara. Padahal Iran diberitakan sebagai musuh Amerika. Dengan demikian, kelompok penentang Basyar sudah pasti pro Amerika, pro Israel, dan didanai oleh mereka. Itu jenis pandangan dan logika yang juga dikembangkan.

Membaca tulisan As-Suri jauh sebelum konflik Suriah hari ini, membantu kita memahami persoalan dari akar masalahnya; untuk tidak mudah terjebak pada permainan opini media di permukaan. Terlebih As-Suri adalah orang asli Suriah yang sejak dulu telah menjadi musuh politik Pemerintah Assad. Hijrahnya ke Afghanistan bersama Usamah; posisinya yang disebut Amerika sebagai orang kunci Alqaidah, merefleksikan kesungguhannya dalam membela Islam. Sejenis musuh Amerika yang sesungguhnya dan bukan musuh fiktif. Tertangkapnya As-Suri di Pakistan, dan oleh Amerika diserahkan ke rezim Basyar Assad, semoga menambah keutamaannya. Lima bulan sebelum revolusi Suriah, Basyar akan menghukum mati As-Suri. Saat meledak revolusi, diwartakan bahwa As-Suri termasuk yang bebas atau dibebaskan. Hingga kini berita itu masih sumir, dan belum ada ‘tanda-tanda kehidupan’ bagi beliau sebagaimana kabar Abu Basher yang tiba-tiba muncul dengan rilisnya bahwa beliau sudah bergabung dengan mujahidin di Suriah.

Bambang Sukirno



No comments:

Post a Comment